Minggu, 12 Desember 2010
KUE MUFFIN
KUE MUFFIN
Hari minggu kemarin iseng2 aku bikin muffin yang ternyata bikinnya guampang buanggetsss…nih dia resepnya:
bahan 1:
200 gr terigu
125 gr gula pasir
3 sdt baking powder
2 sdt cinamon powder
2 sdm bubuk coklat garam dikit aja
bahan 2:
3 butir telor
150 gr butter (dilelehkan)
bahan 3: choco Chips buat taburan atas ny
Caranya nih ya:
1. semua bahan 1 dicampur
2. kocok telur sama lelehan butter
3. masukkan bahan satu ke kocokan butter&telur sambil pelan2 diaduk
4. siapkan cupcake/cetakan muffin yang sudah dialasi kertas roti muffin
5. tuang sampai + 3/4 cupcake, taburi dengan choco chips diatasnya
6. oven deh sampe matang nih dia gambar jadinya…
.cuma kemarin rada keras karena butternya aku pake mentega putih hehehehe asal2an banget ya,
harusnya pake margarin aja biar empuk …..namanya jg my very first muffin….
Hari minggu kemarin iseng2 aku bikin muffin yang ternyata bikinnya guampang buanggetsss…nih dia resepnya:
bahan 1:
200 gr terigu
125 gr gula pasir
3 sdt baking powder
2 sdt cinamon powder
2 sdm bubuk coklat garam dikit aja
bahan 2:
3 butir telor
150 gr butter (dilelehkan)
bahan 3: choco Chips buat taburan atas ny
Caranya nih ya:
1. semua bahan 1 dicampur
2. kocok telur sama lelehan butter
3. masukkan bahan satu ke kocokan butter&telur sambil pelan2 diaduk
4. siapkan cupcake/cetakan muffin yang sudah dialasi kertas roti muffin
5. tuang sampai + 3/4 cupcake, taburi dengan choco chips diatasnya
6. oven deh sampe matang nih dia gambar jadinya…
.cuma kemarin rada keras karena butternya aku pake mentega putih hehehehe asal2an banget ya,
harusnya pake margarin aja biar empuk …..namanya jg my very first muffin….
Jumat, 10 Desember 2010
KUE KUPING GAJAH KEJU
KUE KUPING GAJAH KEJU
Bahan : 375 gr terigu, 150 gr gula bubuk, 1/4 sendok teh garam, 125 gr keju tua(diparut), 2 btr telur, 150 ml air,
2 sdk margarine, 1/2 sdk teh panili, 2 sdk makn coklat bubuk, minyak goreng. Cara buat :
Bahan : 375 gr terigu, 150 gr gula bubuk, 1/4 sendok teh garam, 125 gr keju tua(diparut), 2 btr telur, 150 ml air,
2 sdk margarine, 1/2 sdk teh panili, 2 sdk makn coklat bubuk, minyak goreng. Cara buat :
- Campur tpg, gula vanili, keju, garam. (sisihkan )
- Campur air dan telur campur rata lalu masukan dalm camp tepung.
- masukkan margarin dan ulen campur rata
- bagi jadi 2 satu bgin isi bubuk cuklat dan satu bagian putih.
- letakkan plastik diatas talenan, giling setebal 1/4 cm
- tumopuk kedua gulung padat, taruh lemari pendingin 20 mnt.
- Iris tipis dan goreng kering
Minggu, 05 Desember 2010
KUE PUKIS
'09 12:33 PM
by asri for everyone
Description:
Kue Pukis...
Pasti yang terbayang dalam benak kita adalah yang berbentuk agak lonjong panjang itu kan?
Yah ,kalau memang punya cetakannya sih bentuknya pasti seperti itu ,tapi kita bisa lho mencoba bentuk lain...
Beberapa hari yang lalu ,setelah saya melihat postingan Mbak Yusy yang ini,saya penasaran sekali untuk mencoba memanggang pukis di cetakan muffin (karena saya nggak punya cetakan kue pukis),tentunya bentuknya bulat nggak seperti pukis biasa hehe...
Setelah membayangkan bagaimana bentuk cetakan pukis asli ,yang kalau nggak salah ada tutupnya ,akhirnya saya panggang kue pukis saya di oven ,terus saya tutup bagian atasnya dengan alumunium foil ,biar bagian atasnya nggak terbakar semua.
Hasilnya ,rasa tetep sama dengan kue pukis yang lonjong itu ,cuma ,ada cumanya hehe..,bagian atasnya jadi kelihatan keras . Sepertinya alumunium foil saya kurang bisa sempurna kerjanya dibandingkan tutup cetakan pukis yang asli hehe...
Tapi bagian dalam tetep empuk lho ,akhirnya setelah matang saya hidangkan kue pukis dengan menutupi terus bagian atas kue itu supaya tidak mengeras seperti muffin.
Untuk toppingnya cuma pakai meises aja ,itupun hampir lupa ,jadi naruhnya setelah kue udah mateng hehe..
Silahkan yang ingin berbagi ide tentang kue Pukis..
Resep asli : Blognya mas Budi Sutomo
Ingredients:
Resep dari mbak Yusy(mas Budi) ,cuma saya pakai setengahnya saja:
Tepung terigu protein sedang (saya pakai all purpose flour) 100g
Telur ayam 2 butir
Gula pasir 75 gr g
Santan dari 100 ml
Ragi instan/instan yeast 5 g
Margarin, lelehkan 20 g
Vanili bubuk/vanili pasta
Garam halus 1/4 sdt
Directions:
Kocok telur, gula dan garam hingga mengembang kaku. Tambahkan tepung terigu, ragi instan, margarin dan vanili, aduk rata.
Masukkan santan sedikit demi sedikit sambil diaduk hingga terbentuk adonan yang licin. Diamkan adonan selama 60 menit atau hingga adonan mengembang dan berbuih.
Panaskan cetakan pukis (muffin) yang sudah dioles dengan sedikit margarin. Tuangkan adonan, panggang dengan api sedang (saya pakai oven dengan temperatur 300 F selama 10-15 menit ) hingga matang dan berwarna kuning kecokelatan. Angkat, dinginkan.
Atur di dalam piring saji, hidangkan.
Tip: Untuk variasi isi, sebelum permukaan kue mengering, taburi meises, parutan keju, kismis atau cincangan kacang tanah sangrai. Adonan juga bisa ditambahkan dengan 1 sdt pasta cokelat dan 1 sdm cokelat bubuk untuk mendapatkan kue pukis berwarna cokelat.
by asri for everyone
| Category: | Appetizers & Snacks | |
| Special Consideration: | Quick and Easy | |
| Servings: | 6 buah |
Description:
Kue Pukis...
Pasti yang terbayang dalam benak kita adalah yang berbentuk agak lonjong panjang itu kan?
Yah ,kalau memang punya cetakannya sih bentuknya pasti seperti itu ,tapi kita bisa lho mencoba bentuk lain...
Beberapa hari yang lalu ,setelah saya melihat postingan Mbak Yusy yang ini,saya penasaran sekali untuk mencoba memanggang pukis di cetakan muffin (karena saya nggak punya cetakan kue pukis),tentunya bentuknya bulat nggak seperti pukis biasa hehe...
Setelah membayangkan bagaimana bentuk cetakan pukis asli ,yang kalau nggak salah ada tutupnya ,akhirnya saya panggang kue pukis saya di oven ,terus saya tutup bagian atasnya dengan alumunium foil ,biar bagian atasnya nggak terbakar semua.
Hasilnya ,rasa tetep sama dengan kue pukis yang lonjong itu ,cuma ,ada cumanya hehe..,bagian atasnya jadi kelihatan keras . Sepertinya alumunium foil saya kurang bisa sempurna kerjanya dibandingkan tutup cetakan pukis yang asli hehe...
Tapi bagian dalam tetep empuk lho ,akhirnya setelah matang saya hidangkan kue pukis dengan menutupi terus bagian atas kue itu supaya tidak mengeras seperti muffin.
Untuk toppingnya cuma pakai meises aja ,itupun hampir lupa ,jadi naruhnya setelah kue udah mateng hehe..
Silahkan yang ingin berbagi ide tentang kue Pukis..
Resep asli : Blognya mas Budi Sutomo
Ingredients:
Resep dari mbak Yusy(mas Budi) ,cuma saya pakai setengahnya saja:
Tepung terigu protein sedang (saya pakai all purpose flour) 100g
Telur ayam 2 butir
Gula pasir 75 gr g
Santan dari 100 ml
Ragi instan/instan yeast 5 g
Margarin, lelehkan 20 g
Vanili bubuk/vanili pasta
Garam halus 1/4 sdt
Directions:
Kocok telur, gula dan garam hingga mengembang kaku. Tambahkan tepung terigu, ragi instan, margarin dan vanili, aduk rata.
Masukkan santan sedikit demi sedikit sambil diaduk hingga terbentuk adonan yang licin. Diamkan adonan selama 60 menit atau hingga adonan mengembang dan berbuih.
Panaskan cetakan pukis (muffin) yang sudah dioles dengan sedikit margarin. Tuangkan adonan, panggang dengan api sedang (saya pakai oven dengan temperatur 300 F selama 10-15 menit ) hingga matang dan berwarna kuning kecokelatan. Angkat, dinginkan.
Atur di dalam piring saji, hidangkan.
Tip: Untuk variasi isi, sebelum permukaan kue mengering, taburi meises, parutan keju, kismis atau cincangan kacang tanah sangrai. Adonan juga bisa ditambahkan dengan 1 sdt pasta cokelat dan 1 sdm cokelat bubuk untuk mendapatkan kue pukis berwarna cokelat.
BLESS MININSTRY 3
- Apa bedanya kita dimasa muda dan di masa tua ? Dimasa muda kita bercita-cita merubah dunia, dimasa tua kita bercita2 merubahkaum muda. dimanakah anda berada ? Jika dibenak sekarang bercita2 merubah dunia berarti anda masih dimasa muda yang sedikit pengalaman. Tapi jika ingin merubah kaum muda, artonya anda sedang berbagi pengalaman kepada orang yang mengubah dunia.
- hukum panen adalah menuai lebih dari yang ditabur. Taburlah perbuatan dan akan menabur kebiasaan. taburlah kebiasaan dan anda akan menuai karekter, taburlah karekterdan anda akan menuai masa depan.
- kita dapat hidup dari apayg kita peroleh, ttp kita hanya dapat membuat kehidupan kita berarti dengan apa yg kita beri. belajar memberi artinyabelajar membuat kehidupan anda berarti
- Sukses dalam hidup tdk datang dgn memiliki tangan yg bagus, namun dengan memainkan tangan yg bagusdan trampil, sukses bukan ditentukan oleh modal atau gelar ttp ditentukan sejauh manakita bisa bersiasat memainkan kesempatan, sehg bisa menciptakan irama yg bisa menarik kita ke puncak.
- Ada banyak cara utk gagal, tapi tdk pernah mengambilkesempatan dan peluang untuk maju adalah KEGAGALAN YG PALING BERHASIL Kegagalan anda bukan karena anda gagal dlm mengerjakan atau /melakukan sesuatu. tapi kegagalan anda terletak disaat anda tdk mengambil kesempatanuntuk bertindak
Senin, 22 November 2010
Korelasi Agama dan Filsafat
Korelasi Agama dan Filsafat
Ditulis oleh teosophy di/pada Agustus 24, 2009
Oleh: Mohammad AdlanyAgama dan filsafat memainkan peran yang mendasar dan fundamental dalam sejarah dan kehidupan manusia. Orang-orang yang mengetahui secara mendalam tentang sejarah agama dan filsafat niscaya memahami secara benar bahwa pembahasan ini sama sekali tidak membicarakan pertentangan antara keduanya dan juga tidak seorangpun mengingkari peran sentral keduanya. Sebenarnya yang menjadi tema dan inti perbedaan pandangan dan terus menyibukkan para pemikir tentangnya sepanjang abad adalah bentuk hubungan keharmonisan dan kesesuaian dua arus besar ini.
Sebagian pemikir yang berwawasan dangkal berpandangan bahwa antara agama dan filsafat terdapat perbedaan yang ekstrim, dan lebih jauh, dipandang bahwa persoalan-persoalan agama agar tidak “ternodai” dan “tercemari” mesti dipisahkan dari pembahasan dan pengkajian filsafat. Tetapi, usaha pemisahan ini kelihatannya tidak membuahkan hasil, karena filsafat berhubungan erat dengan hakikat dan tujuan akhir kehidupan, dengan filsafat manusia dapat mengartikan dan menghayati nilai-penting kehidupan, kebahagian, dan kesempurnaan hakiki. Disamping itu, masih banyak tema-tema mendasar berkisar tentang hukum-hukum eksistensi di alam yang masih membutuhkan pengkajian dan analisa yang mendalam, dan semua ini yang hanya dapat dilakukan dengan pendekatan filsafat.
Jika agama membincangkan tentang eksistensi-eksistensi di alam dan tujuan akhir perjalanan segala maujud, lantas bagaimana mungkin agama bertentangan dengan filsafat. Bahkan agama dapat menyodorkan asumsi-asumsi penting sebagai subyek penelitian dan pengkajian filsafat. Pertimbangan-pertimbangan filsafat berkaitan dengan keyakinan-keyakinan dan tradisi-tradisi agama hanya akan sesuai dan sejalan apabila seorang penganut agama senantiasa menuntut dirinya untuk berusaha memahami dan menghayati secara rasional seluruh ajaran, doktrin, keimanan dan kepercayaan agamanya. Dengan demikian, filsafat tidak lagi dipandang sebagai musuh agama dan salah satu faktor perusak keimanan, bahkan sebagai alat dan perantara yang bermanfaat untuk meluaskan pengetahuan dan makrifat tentang makna terdalam dan rahasia-rahasia doktrin suci agama, dengan ini niscaya menambah kualitas pengahayatan dan apresiasi kita terhadap kebenaran ajaran agama.
Walaupun hasil-hasil penelitian rasional filsafat tidak bertolak belakang dengan agama, tapi selayaknya sebagian penganut agama justru proaktif dan melakukan berbagai pengkajian dalam bidang filsafat sehingga landasan keimanan dan keyakinannya semakin kuat dan terus menyempurna, bahkan karena motivasi keimananlah mendorongnya melakukan observasi dan pembahasan filosofis yang mendalam terhadap ajaran-ajaran agama itu sendiri dengan tujuan menyingkap rahasia dan hakikatnya yang terdalam. Dengan satu ungkapan dapat dikatakan bahwa filosof agama mestilah dari penganut dan penghayat agama itu sendiri. Lebih jauh, filosof-filosof hakiki adalah pencinta-pencinta agama yang hakiki. Sebenarnya yang mesti menjadi subyek pembahasan di sini adalah agama mana dan aliran filsafat yang bagaimana memiliki hubungan keharmonisan satu sama lain. Adalah sangat mungkin terdapat beberapa ajaran agama, karena ketidaksempurnaannya, bertolak belakang dengan kaidah-kaidah filsafat, begitu pula sebaliknya, sebagian konsep-konsep filsafat yang tidak sempurna berbenturan dengan ajaran agama yang sempurna. Karena asumsinya adalah agama yang sempurna bersumber dari hakikat keberadaan dan mengantarkan manusia kepada hakikat itu, sementara filsafat yang berangkat dari rasionalitas juga menempatkan hakikat keberadaan itu sebagai subyek pengkajiaannya, bahkan keduanya merupakan bagian dari substansi keberadaan itu sendiri. Keduanya merupakan karunia dari Tuhan yang tak bisa dipisah-pisahkan. Filsafat membutuhkan agama (wahyu) karena ada masalah-masalah yang berkaitan dengan dengan alam gaib yang tak bisa dijangkau oleh akal filsafat. Sementara agama juga memerlukan filsafat untuk memahami dan menghayati secara mendalam doktrin-doktrin suci ajaran agama. Berdasarkan perspektif ini, adalah tidak logis apabila ajaran agama dan filsafat saling bertolak belakang.
Anselm[1] dalam risalah filsafatnya yang berjudul “Proslogion” mengungkapkan kalimat yang menarik berbunyi: saya beriman agar bisa mengetahui. Apabila kalimat ini kita balik akan menjadi: jika saya tidak beriman, maka saya tak dapat mengetahui. Tak dapat disangkal bahwa Anselm meyakini bahwa keimanan agama adalah sumber motivasi dan pemicu yang kuat untuk mendorong seseorang melakukan penelitian dan pengkajian yang mendalam terhadap ajaran-ajaran doktrinal agama, lebih jauh, keimanan sebagai sumber inspirasi lahirnya berbagai ilmu dan pengetahuan. Kesempurnaan iman dan kedalaman pengahayatan keagamaan seseorang adalah berbanding lurus dengan pemahaman rasionalnya terhadap ajaran-ajaran agama, semakin dalam dan tinggi pemahaman rasional maka semakin sempurna keimanan dan semakin kuat apresiasi terhadap ajaran-ajaran agama. Manusia membutuhkan rasionalisasi dalam semua aspek kehidupannya, termasuk dalam doktrin-doktrin keimanannya, karena akal dan rasio adalah hakikat dan substansi manusia, keduanya mustahil dapat dipisahkan dari wujud manusia, bahkan manusia menjadi manusia karena akal dan rasio. Tolok ukur kesempurnaan manusia adalah akal dan pemahaman rasional. Akal merupakan hakikat manusia dan karenanya agama diturunkan kepada umat manusia untuk menyempurnakan hakikatnya. Penerimaan, kepasrahan dan ketaatan mutlak kepada ajaran suci agama sangat berbanding lurus dengan rasionalisasi substansi dan esensi ajaran-ajaran agama.
Substansi dari semua ajaran agama adalah keyakinan dan kepercayaan terhadap eksistensi Tuhan, sementara eksistensi Tuhan hanya dapat dibuktikan secara logis dengan menggunakan kaidah-kaidah akal-pikiran (baca: kaidah filsafat) dan bukan dengan perantaraan ajaran agama itu sendiri. Walaupun akal dan agama keduanya merupakan ciptaan Tuhan, tapi karena wujud akal secara internal terdapat pada semua manusia dan tidak seorangpun mengingkarinya, sementara keberadaan ajaran-ajaran agama yang bersifat eksternal itu tidak diterima oleh semua manusia. Dengan demikian, hanya akallah yang dapat kita jadikan argumen dan dalil atas eksistensi Tuhan dan bukan ajaran agama. Seseorang yang belum meyakini wujud Tuhan, lantas apa arti agama baginya. Kita mengasumsikan bahwa ajaran agama yang bersifat doktrinal itu adalah ciptaan Tuhan, sementara belum terbukti eksistensi Pencipta dan pengenalan sifat-sifat sempurna-Nya, dengan demikian adalah sangat mungkin yang diasumsikan sebagai “ciptaan Tuhan” sesungguhnya adalah “ciptaan makhluk lain” dan makhluk ini lebih sempurna dari manusia (sebagaimana manusia lebih sempurna dari hewan dan makhluk-makhluk alam lainnya). Lantas bagaimana kita dapat meyakini bahwa seluruh ajaran agama itu adalah berasal dari Tuhan. Walaupun kita menerima eksistensi Tuhan dengan keimanan dan membenarkan bahwa semua ajaran agama berasal dari-Nya, tapi bagaimana kita dapat menjawab soal bahwa apakah Tuhan masih hidup? Kenapa sekarang ini tidak diutus lagi Nabi dan Rasul yang membawa agama baru? Dan masih banyak lagi soal-soal seperti itu yang hanya bisa diselesaikan dengan kaidah akal-pikiran. Berdasarkan perspektif ini, akal merupakan syarat mendasar dan mutlak atas keberagamaan seseorang, dan inilah rahasia ungkapan yang berbunyi: tidak ada agama bagi yang tidak berakal.
Mungkin masih terdapat sebagian penganut agama yang beranggapan bahwa ajaran-ajaran agama dapat dipahami secara rasional lewat pandangan-pandangan para filosof yang bukan penganut agama itu sendiri, menurut mereka adalah tidak urgen mengkaji dan mendalami filsafat untuk menafsirkan ajaran-ajaran suci agama. Anggapan ini sangatlah keliru, karena para filosof itu tidak mengetahui secara universal dan komprehensif ajaran-ajaran agama, jadi tafsiran-tafsirannya atas ajaran agama sangat besar kemungkinan mengandung kesalahan. Oleh karena itu, para analisis non-religius seperti Bertrand Russel dan Anthony Flew yang memandang ajaran agama dari luar tidak mampu menjelaskan dan menjabarkan substansi dan esensi ajaran agama secara sempurna. Sebagian pengkritik dan pengkaji ajaran agama dari luar dapat dikatakan bahwa mereka itu tidak memahami secara jelas dan proporsional tema pembahasan dan pengkajiannya sendiri. Sangat disayangkan, sebagian penganut agama tanpa sikap kritis dan selektif menerima apa adanya analisa dan penafsiran mereka.
Harapan umat beragama kepada para filosof non-religius adalah bukan pembenaran dan apologi terhadap hakikat ajaran agama, tetapi pengetahuan yang komprehensip dan proporsional terhadap ajaran agama dan keprihatinan yang cukup sebagaimana yang dimiliki para penganut agama. Disamping itu, yang paling urgen bagi mereka adalah pemahaman mendalam dan rasional atas ajaran-ajaran keagamaan dan bukan penerimaan secara awam terhadapnya. Seorang filosof non-religus yang memandang dan mengkaji ajaran agama dari luar, sebelumnya tidak mesti beriman kepada agama itu, tapi pengetahuan yang benar atas inti kajian.
Mengenai dikotomi agama dan filsafat serta hubungan antara keduanya para pemikir terpecah dalam tiga kelompok: kelompok pertama, berpandangan bahwa antara keduanya terdapat hubungan keharmonisan dan tidak ada pertentangan sama sekali. Kelompok kedua, memandang bahwa filsafat itu bertolak belakang dengan agama dan tidak ada kesesuaiannya sama sekali. Kelompok ketiga, yang cenderung moderat ini, substansi gagasannya adalah bahwa pada sebagian perkara dan persoalan terdapat keharmonisan antara agama dan filsafat dimana kaidah-kaidah filsafat dapat diaplikasikan untuk memahami, menafsirkan dan menakwilkan ajaran agama.
Sangat penting untuk digaris bawahi bahwa yang dimaksud filsafat dalam makalah ini adalah metafisika (mâ ba’d ath-thabî’ah). Jadi subyek pengkajian kita adalah hubungan antara agama dan metafisika, namun metafisika menurut perspektif para filosof Islam. Di atas telah disinggung bahwa sebagian pemikir Islam memandang bahwa antara agama dan filsafat terdapat keharmonisan. Sekitar abad ketiga dan keempat hijriah, filsafat di dunia Islam mengalami perkembangan yang cukup pesat, Abu Yazid Balkhi, salah seorang filosof dan teolog Islam, mengungkapkan hubungan antara agama dan filsafat, berkata, “Syariat (baca: agama) adalah filsafat mayor dan filosof hakiki adalah orang yang mengamalkan ajaran-ajaran syariat”[2]. Ia yakin bahwa filsafat merupakan ilmu dan obat yang paling ampuh untuk menyembuhkan segala penyakit kemanusian.
Tentang Agama
Segala konsep teoritis, terkhusus yang berhubungan dengan manusia, senantiasa menjadi tema dan subyek analisa, pengkajian dan perdebatan, tak terkecuali konsep teoritis tentang agama. Oleh karena itu, tak bisa disangkal hadirnya berbagai pandangan tentang definisi dan pengertian agama yang hingga sekarang ini belum juga dihasilkan kesepakatan bersama, tapi kerumitan definisi ini bukan berarti bahwa manusia tidak dapat memahaminya secara universal. Robert Hume dalam hal ini berkata, “Agama saking sederhananya bisa diamalkan dan dihayati oleh seorang anak yang baligh dan manusia dewasa yang berakal, tetapi akan rumit sekali ketika ingin dikonsepsi secara sempurna dan komprehensip, yang karenanya ia memerlukan analisa mendalam dan pengalaman keagamaan yang tinggi”[3]. Definisi tentang agama sangat beragam karena berkaitan dengan seluruh dimensi kehidupan manusia seperti etika, sejarah, psikologi, sosiologi, filsafat dan estetika.
Problematika Pendefinisian Agama
Definisi tentang agama memiliki kerumitan tersendiri karena beragam faktor, sebagian faktor tersebut adalah sebagai berikut:
- Perbedaan dalam metodologi pendefinisian agama. Sebagian mendefinisikan agama berpijak pada empirisme dan sebagian lain mendefinisikannya lewat pendekatan rasionalisme, fenomenologi, psikologi, dan sosiologi.
- Perbedaan dalam penentuan individu-individu agama. Sebagian dari awal memandang bahwa aliran filsafat dan sosial dikategorikan kedalam individu-individu agama dan berdasarkan inilah agama itu didefinisikan secara luas.
- Menyamakan antara esensi agama dan prilaku penganut agama. Para pengkaji agama yang mendefinisikan agama melalui pendekatan empirisitas dan fenomena-fenomena agama terkadang tidak lagi membedakan antara prilaku-prilaku penganut agama dan hakikat ajaran agama sehingga perbuatan negatif para penganut agama itu dimasukkan sebagai bagian dari definisi agama.
- Pengkajian terhadap sisi internal agama atau eksternal agama. Sebagian orang mengusulkan bahwa untuk memahami hakikat dan esensi agama mesti merujuk pada wahyu dan teks-teks suci agama sebagai internalitas agama dan menjauhi segala metode, sumber dan sudut pandang yang merupakan dimensi eksternalitas agama, tapi sebagian juga menekankan penelitian terhadap agama mesti berangkat dari sisi eksternalitas agama; disamping terdapat perbedaan yang mencolok antara teks-teks suci semua agama juga terdapat keragaman model-model pendekatan rasional dari setiap aliran filsafat, hal inilah yang semakin memperuncing hadirnya perbedaan dalam pendefinisian agama.
- Menggunakan istilah-istilah yang kabur dan tidak transparan dalam pendefinisian agama. Sebagian teolog menguraikan agama dalam bentuk yang rumit dan kompleks, realitas ini tidak dapat menjadikan definisi agama semakin jelas malah mengaburkannya.
- Pendefinisian agama hanya secara leksikal dan harfiah. Sebagian teolog dalam mendefinisikan agama hanya merujuk makna leksikal agama seperti ketaatan, khusu’, pahala dan kepasrahan. Sementara metode seperti ini tak bisa mengungkap esensi agama, berlebih lagi kalau kata-kata tersebut dari awal tidak ditetapkan untuk mewakili makna agama itu sendiri.
- Pendefinisian agama dipengaruhi oleh istilah-istilah epistemologi, antropologi, ontologi, pandangan dunia, dan ideologi. Tak satupun teolog dan filosof agama yang berangkat dari awal dalam pendefinisian agama, hampir semua memandang agama sesuai dengan latar belakang pemikiran dan disiplin ilmunya.
- Agama tidak memiliki individu luar yang dapat terindera secara lahiriah. Problem lain dalam pendefinisian agama adalah agama tak mempunyai realitas eksternal yang mudah terindera secara lahiriah, karena suatu konsep yang tidak memiliki obyek luar di alam materi akan sangat sulit dipahami dan dimengerti sebagaimana mestinya.
- Perubahan yang terjadi pada sebagian agama. Begitu banyak agama-agama yang mengalami perubahan dan penyimpangan disepanjang sejarah kehidupannya dan karena inilah lahir banyak aliran-aliran dan mazhab-mazhab yang berbeda. Walaupun hikmah Ilahi mengharuskan minimal satu agama dan mazhab yang terjaga dari perubahan dan penyimpangan itu agar manusia mendapatkan petunjuk dan terus mengalami kesempurnaan. Tapi bagaimanapun adanya perubahan yang terjadi pada teks suci beberapa agama tak bisa disangkal dan menyebabkan perbedaan pendefinisian agama.
- Pengetahuan yang tak komprehensif tentang agama. Memahami sebagian agama dan terfokus pada cabang agama (fiqih agama) akan berefek pada pendefinisian agama yang beragam.
Secara leksikal
Kata agama dalam kitab suci Al-Qur’an dan hadits Nabi mempunyai makna antara lain: pahala dan balasan, ketaatan dan penghambaan, kekuasaan, syariat dan hukum, umat, kepasrahan dan penyerahan mutlak, aqidah, cinta, akhlak yang baik, kemuliaan, cahaya, kehidupan hakiki, amar ma’ruf nahi munkar, amanat dan menepati janji, menuntut ilmu dan beramal dengannya, dan puncak kesempurnaan akal.
Secara gramatikal
A. Definisi agama menurut para teolog Barat.
- Agama adalah suatu sistem Ilahi yang ditetapkan bagi manusia yang memuat pokok-pokok agama dan cabang-cabangnya.[4]
- Agama adalah suatu ketetapan Ilahi untuk umat manusia yang bertujuan membahagiakan manusia di dunia dan akhirat.[5]
- Agama ialah hukum dan undang-undang Ilahi yang mengajak orang-orang berakal menerima dan mengikuti seruan Nabi-Nya. [6]
- Agama adalah berikrar dengan lisan, yakin pada pahala dan siksaan di akhirat dan beramal sesuai hukum dan perintahnya. [7]
- Agama merupakan segala upaya dan usaha untuk menyingkap dan menyempurnakan hakikat kebaikan di dalam wujud kita.[8]
- Agama adalah keyakinan kepada kehendak Tuhan Yang Kuasa atas semua alam dan etikanya sesuai dengan watak manusia.[9]
Rabu, 03 November 2010
SANITASI HYGIENE
lHYGIENE LEBIH BANYAK MEMBICARAKAN MASALAH BAKTERI SEBAGAI PENYEBAB TIMBULNYA PENYAKIT.


Langganan:
Postingan (Atom)